Palopo Masuk 10 Besar Nasional

•Februari 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Palopo masuk 10 Besar Nasional

 

Pihak Dinas Dikpora Palopo untuk merintis program wajib belajar 12 tahun, nampaknya bisa bernafas lega.

 

Pasalnya, keinginan tersebut diperkuat dengan hasil rembug Pemdidikan Nasional di Jakarta, 4-6 Februari lalu, yang idhadiri Presiden RI  SBY, menyebutkan Kota Palopo masuk 10 kota di kawasan Indonesia yang mencapai Angka Partisipasi Kasar (APK) tertinggi 2007 untuk program pendidikan wajib belajar 9 tahun atau SMP sederajat.

 

Disampaikan Kadispora Palopo, Drs H Muchtar Basir MM, pencapaian ini berdasarkan hasil laporan APK Pusat ke presiden dalam rembug tersebut. “Diantara 10 kota se Indonesia, cuma Palopo dari kawasan Indonesia timur dengan menduduki posisi keenam dengan APK 128,41 persen” terangnya Jumat 15 Februari kemarin.

 

Diatmabhakannya angka ini diambil dari hasil pelaporan pihak Dikpora dari tiap Kabupaten/Kota atas banyaknya sekolah. “ini menandakan meningkatnya anak sekolah yang tamat di tingkat SMP sederajat” tambahnya.

 

Dari angka kesuksesan tersebut Palopo melebihi target APK nasional yakni 95 persen.”Angka ini sekaligus menjadikan kita dinyatakan sukses dalam melaksanakan program wajib belajar 9 tahun dan dinyatakan bisa melaksanakan rintisan wajib belajar 12 tahun yang buntutnya berujung pada peningkatan kualitas SDM” bebernya.

 

Muchtar juga menyebutkan hasil APK Palopo ini akan dideklarasikannya bulan Mei mendatang. “kami juga merencanakan, untuk tahun ajaran 2008/2009 program wajib belajar 12 tahun ini sudah kita terapkan, dan kemungkinan kami akan membiayai anak-anak yang kurang mampu yntuk bisa mengikuti wajib belajar 12 tahun melalui bantuan khusus murid” jelas Muchtar.

 

Sementara ini Palopo mendata sedikitnya 14 SMA, 15 SMK, 21 SMP/MTs, 72 SD/MI, 43 TK dan 28 PKBM. “Tahun ajaran 2007-2008 terdapat 2847 siswa tingkat SD, 2663 siswa SMP, 2048 siswa SMA/MAN, dan 1576 siswa SMK, yang siap mengikuti ujian atau siap tamat” kuncinya.

 

sumber: Palopo Pos 16 Feb 2008

Iklan

“Kota Palopo yang Tebakar” karya Musytari Yusuf

•Februari 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah roman dengan latar belakang pemberontakan DI/TII di Palopo pernah memenangkan sayembara penulisan roman UNESCO-IKAPI di tahun 1968. Novel berjudul “Kota Palopo yang Terbakar” ini kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit lokal, ToACCAe Publishing akhir tahun lalu, sebagai upaya memperkenalkan karya sastra yang lahir di Sulawesi Selatan. Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman yang membaca roman ini, membagi ringkasannya.(p!)
DUA hal yang diharapkan ketika membaca buku terbitan lama, yakni rekaman keadaan sebuah masyarakat di kurun waktu tertentu dan bahasa di masa penulisannya. Dua hal itulah yang saya tangkap selama membaca Kota Palopo yang Terbakar (KPYT), buku yang ditulis Musytari Yusuf.

Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan adalah sebuah perlawanan yang menjadi cerita sendiri di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Yang paling sering dibicarakan adalah sosok panglimanya, Kahar Muzakkar. Keberadaan lelaki besar itu yang hingga kini terus diperdebatkan, benarkah masih hidup atau mati tertembak peluru Kopral II Sadeh, anggota Batalyon Kujang 330/Siliwangi, dalam sebuah pengepungan di sekitar Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara?

Di kalangan awam, beberapa masih mengaku bahwa pernah sempat bertemu dengan lelaki tinggi besar itu di sebuah tempat yang, meskipun, tak mau disebut. Bila pun mati, tak ada makam yang bisa membuktikannya. Berdasarkan tayangan (ketika itu masih bernama) TV-7 pada 2006 lalu, teka-teki itu disimpan erat oleh almarhum Jenderal M Yusuf.

Cara ini, dalam makalah Hamdan Juhannis, The Struggle for Formal Islam in South Sulawesi: Kahar Muzakkar’s Darul Islam Movement, ditengarai oleh salah seorang kepercayaan Kahar Muzakkar, Ahmad Marzuki Hasan, sebagai upaya menemukan pengikutnya yang tersisa. Lain hal dengan antropolog Abu Hamid, yang melihat bahwa alasan Pemerintah mengaburkan kematian Kahar sebagai cara menghapus ingatan masyarakat setempat. Bahkan pada awal 2000 lalu, berdasarkan kertas kerja Andi Faisal Bakti Abdul Qahhar Mudzakkar’s Followers and Their Activities: Various Ways in Organizing Themselves Against Hegemony, muncul sosok KH Syamsuri yang disebut sebagai Kahar Muzakkar. Namun kemunculannya mendapat respon yang nyaris serupa.

ROMAN KPYT jauh dari riuhnya pembicaraan hal-hal yang tadi. Musytari menulis KPYT, yang memenangkan hadiah sayembara UNESCO-IKAPI 1968 ini, dengan menjadikan masa itu sebagai latar cerita. Tokoh Patiwiri, yang bertahun-tahun mengasingkan diri di luar negeri, akhirnya pulang hanya untuk menuntut balas atas kematian istrinya yang dinodai oleh Andi Rajab. Patiwiri adalah salah seorang anggota pasukan Pembela Keamanan Rakyat (PKR) di bawah pimpinan Andi Tenriajeng. Tapi pasukannya diharuskan menyerah karena Datu Luwu ditangkap oleh bala tentara KNIL. Angkat tangannya PKR memang terpaksa lantaran surat Datu Luwu datang untuk Andi Tenriajeng, yang tak lain anak kemanakan Datu Luwu, untuk meletakkan senjata. “Kalau kau masih sayang kepada Datu, letakkanlah senjatamu,” begitu surat penguasa Luwu kepada Andi Tenriajeng.

Komandannya memang menghentikan perlawanannya. Tapi Patiwiri yang keras hati itu tidak mau menyerah; malah memilih untuk lari masuk hutan Sulawesi Tenggara bersama empat orang Jepang, bekas pelatih tentara PKR. Setelah keempat orang Jepang itu tewas, ia pun menyamar menjadi awak perahu menuju Surabaya. Tatkala Patiwiri di Tanjung Priok, ia mendengar kalau istrinya meninggal lantaran sakit. Kabar itu kemudian membuatnya tak mau pulang lagi ke kampung halamannya. Ia pun melanglang buana menjadi kelasi kapal besar.

Tapi ludahnya ia telan sendiri ketika bertemu bekas teman seperjuangannya, Haji Abdul Wahab di Terusan Suez. Dari mulut temannya itu ia dengar kalau istrinya mati tidak wajar. Ini kemudian mendorongnya pulang menumpang Intata, sebuah kapal besar milik KKSS, menuju Palopo yang ditinggalkannya sejak 10 tahun silam. Ia pun tiba di sana pada suatu siang di bulan November 1955.

Palopo, ibukota Luwu, yang di masa itu meliputi Makale, Rantepao, Malili, dan Kolaka. Pada permulaan tahun 1946 kota ini hancur lumat dicabik-cabik api revolusi kemerdekaan, dan sekarang 1955 beralih menjadi kota perkemahan tentara dan kota penampungan pengungsi. Di mana-mana terdapat barak-barak kompi di sepanjang tepi jalan, di pinggir kota penuh gubuk darurat yang didiami oleh orang-orang yang terusir dari kampung halamannya. Di halaman rumah Datu sendiri, kini penuh dengan rumah-rumah kayu dan bambu. Truk-truk tentara dan jip-jip para perwira simpang siur tiada hentinya mengingatkan kita pada masa-masa akan berakhirnya Perang Pasifik, di mana kota ini penuh dengan tentara Rikugun yang sibuk membuat liang-lahat pertahanan di gunung-gunung sepanjang jalan antara Palopo dan Rantepao. Sepuluh tahun tak cukup membuat Palopo berubah. Patiwiri masih mengenali gudang kopra Thiang Siang, Jembatan Tappong bikinan Belanda, dan toko-toko kayu di Jalan Kartini yang masih sama (hal. 53-54).

***

DENDAM Patiwiri memang membara. Ia bersumpah untuk tidak makan nasi sebelum membalaskan sakit hatinya kepada si penyebab kematian istrinya, Haerani Daeng Caya (24 Januari 1947). Ia bahkan mengejar si pelaku sampai ke dalam hutan, meski ia tahu masuk ke tempat para pasukan gerombolan amatlah sulit.

Selama ini, kabar yang beredar di masyarakat adalah bala tentara DI-TII berjuang di hutan-hutan, tanpa menyebut detail sejauh apa dan bagaimana kehidupan mereka di sana. Dalam KPYT, Musytari dengan rinci menggambarkan betapa jauh perjalanan untuk masuk ke daerah markas gerombolan. Masuk hutan, melalui jalan Patteke-Dangerakko, ia ke desa Boting. Desa yang dianggap sebagai gerbang ke tempat persembunyian warga yang lari ke hutan itu, ia menuju ke Sungai Latuppa. Perjalanan yang dimulai subuh itu tiba kemudian di sebuah ketinggian. Tak disebut di mana letaknya. Yang pasti dari tempat tersebut mereka dapat melihat Palopo dan kawasan sekitarnya. Ketika matahari condong ke barat, Patiwiri bersama pengantarnya bergerak lagi ke Buntu Kadinginan. Mereka mulai berjumpa dengan bala DI-TII berpet hijau dan memakai seragam berwarna khaki tanpa sepatu sekitar pukul 16.00. Lalu petang rebah, mereka pun tiba di Gunung Peta.

Di sana ia berjumpa dengan ibu-bapaknya. Bahkan meminta ayahnya untuk menunjukkan siapa penyebab kematian tak wajar istrinya. Dari ayahnya itu Patiwiri dituntun bahwa si pelaku bisa ia temui di Makulau. Sebagai bekal, oleh ayahnya, ia dibelaki keris yang bersarung urat kayu kemuning. Hulunya beralas perak, keluk tiga, berwarna putih berurat-urat. Keris Luwu tempahan Ussu’. Warisan dari kakeknya dalam Perang Bone 1905. “Jeruk nipis sekalipun tak sanggup menghilangkan keanyirannya” (hal.156).

Patiwiri berangkat mencari Andi Rajab. Dari mantan rekannya di masa revolusi kemerdekaan dulu, Inting, ia tahu bahwa orang yang dikejarnya tidak lain komandan pasukan Momok Hitam. Pasukan ini begitu dikenal di masa itu karena kekuatan dan keberanian menghadapi pasukan TNI. Bahkan, dalam perjalanan mencari penyebab kematian istrinya, ia mencuri dengar, sejumlah orang DI-TII menyebut kalau si komandan kebal adanya.

Andi Rajab disebut dalam roman itu seorang yang pernah diadili di hutan sebagai pengkhianat perjuangan kemerdekaan karena membelot ke NICA. Tapi nasibnya mujur. Kahar Muzakkar menengahi pihak penuduh dan Andi Rajab. Entah kesepakatan apa yang dicapai ketika itu. Tapi yang jelas, tak lama setelah jalan damai dicapai, Andi Rajab diberi tanggungjawab untuk menjadi komandan yang ternyata memberi hasil gemilang pada perjuangan. Terakhir kemudian ia menjadi komandan Momok Hitam.

Tapi reputasi itu tak menyurutkan niat Patiwiri. Ditemani sebilah keris pemberian ayahnya, ia terus memburu Guntur, nama alias Andi Rajab. Kesempatan yang dinanti pun tiba. Didapatinya Andi Rajab berangkat mandi ke sungai. Tanpa memberi ampun, ia hunus dan menghunjamkan ke perut lelaki berperawakan kecil itu hingga tewas. Patiwiri sendiri akhirnya ditangkap dan dihukum mati dengan tembakan 12 peluru (hal.252).

***
NARASI kehidupan orang biasa yang terjepit antara TNI-DI/TII mulai diceritakan pada bagian kehidupan Hamida, adik Patiwiri, seorang guru di Sekolah Rakyat II Kampung Pisang; sekolah yang hanya memiliki empat guru untuk enam kelas. Itu semua disebabkan “Guru-guru banyak yang dicurigai oleh tentara. Tentu mereka suka lari masuk ke hutan daripada meringkuk dalam tahanan dengan masa yang tiada terbatas” (hal.13). Orang-orang yang masih ada di kota menjadi serba-salah. Kalau ada serangan tentara DI/TII terhadap TNI, dalam pikiran tentara itu kita ini semua memihak pada orang hutan, apa lagi setiap hari ada saja orang yang meninggalkan kota dan lari ke gunung. Tentara yang bersahabat dengan kita pun memberengut bila berjumpa di jalan (hal.12).

Hamida sendiri sempat menghadapi interogasi tentara karena sebuah surat yang ditulis orangtuanya yang lari ke hutan. Surat beraksara Bugis itu dicurigai oleh tentara memuat kata sandi bagi pihak gerombolan. Meski Hamida menyangkal, “Ini surat dari orangtua saya minta sabun dan obat gigi” (hal.14). Bahkan di bagian lain cerita itu kemudian ia menyebut bahwa orangtuanya memang bukan anggota gerombolan DI/TII.

Keberadaan orangtua Hamida ketika ke Murante, awalnya, hanya untuk keperluan sebuah pesta. Tapi mereka lalu terjebak. Saat masih di gunung, datanglah perintah garis pemisah TNI/DI-TII. Di belakang garis pemisah itu pemimpin-pemimpin DI-TII ingin melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Rumah-rumah rakyat yang tinggal dua atau tiga kilometer dari pos-pos TNI semuanya dibakar, penduduk ada yang lari ke hutan, ada pula yang lari ke kota (hal. 56). “Mereka berada di hutan hanya karena tertahan semata-mata ketika ada garis pemisah. Tentara-tentara begitu kejam!” (hal.213).

Seorang bekas lurah di sana menjadi contoh betapa terjepitnya warga di antara seteru antara ‘tentara negara’ dan ‘gerombolan’. Bekas Lurah Mawa disebutkan tidak mau masuk dalam daerah de-fakto, dan harus menyingkir ke dekat pos-pos TNI, telah meninggalkan sawah dan ladangnya di belakang apa yang dikatakan garis pertahanan DI-TII dengan TNI, hanya ia tidak menolak untuk memberi pertolongan kepada orang-orang hutan yang bertugas di kota, karena ia tak mau dicap pengkhianat dari dalam hutan, di mana seorang anaknya dari beberapa kemanakannya menduduki jabatan penting. Sebaliknya ia merasa tidak terpaksa ikut ke hutan karena seorang puterinya bersuamikan TNI dan bertugas di Parepare yang sewaktu-waktu bila keadaan terpaksa menyingkir ke sana (hal.108-109). Semua itu dilakukan karena barangkali rakyat di hutan lebih nyenyak tidurnya (hal.110).

Dalam roman itu pula dijelaskan bagaimana ketatnya pelaksanaan hukum Islam. Pada beberapa bagian buku itu disebutkan bahwa orang-orang yang berada di hutan keheranan melihat Patiwiri berjabat tangan dengan seorang perempuan Katolik yang ditahan, sebuah hal yang sudah bukan kebiasaan di daerah kekuasaan DI-TII sejak beberapa tahun lamanya lantaran bukan muhrimnya (hal.161). Mungkin benar cerita orang dulu bahwa “barang-barang yang digeletakkan begitu saja tak ada yang berani mengambil karena para pencuri gentar diancam hukuman pancung tangan”.

TAK KALAH mengasyikkan dari pengalaman membaca roman lawas ini adalah menikmati bahasa di masa penulisannya. Begitu banyak kata, kalimat, dan cara pengucapan yang terasa ‘ganjil’ saat menyimaknya sampai memaksa untuk membuka kamus atau tesaurus Bahasa Indonesia. Kata-ungkapan lama itu, antara lain penenggang-nenggang hati (hal.58); ampulur (hal.118); kepala kukur, menyudu, saru, biduk, dan upih (hal.121); dekus (122) serasah (hal.122-171); lukah yang berinjap, gigi depannya ganggang dan kepetahan (hal.123); dipulas-pulas (126); gelinggang (hal.128); jereng (hal.129); leperansir (hal.130); dan runtih (hal.141).

Terdapat pula beberapa istilah lokal yang dimasukkan ke dalam roman itu seperti mabusung (hal.64); balla-balla (121); barung-barung (hal.128);

Tapi kita perlu panik menghadapi istilah lawas itu, karena pembaca tetap dibantu dengan pelampiran daftar Peristilahan yang diletakkan di halaman xvi, sebagai penuntun sebelum membuka lembar yang memaparkan cerita sederhana ini.(p!)

*Citizen reporter Anwar Jimpe Rachman dapat dihubungi melalui email saintjimpe@gmail.com

sumber: http://www.panyingkul.com

Detik-Detik yang Menentukan – Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi

•Februari 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengingat bahwa buku ini ditulis berdasarkan catatan harian beliau dan komentar berbagai surat kabar nasional pada masa itu maka buku ini seolah-olah merupakan rekaman ulang sebuah realitas politik yang amat mencekam saat itu. Meskipun demikian sisi-sisi kelembutan, di tengah-tengah ketegasan sikapnya, seorang anak bangsa yang bernama B.J. Habibie sangat jelas tergambarkan pula di dalam buku ini. (Hermawan K. Dipojono)

Tokoh yang dengan reformasi berubah dari wakil presiden menjadi presiden dan kemudian meninggalkan kursi kepresidenannya dengan bibir yang tersenyum dan kepala yang tegak. Semua berlaku dengan konstitusional, damai, tanpa setetes darahpun yang tertumpahkan, dan kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk para pemimpin penerusnya agar dapat mengisi momentum-momentum yang hadir dengan lebih sukses. (Hidayat Nur Wahid)

Banyak hal yang sangat menarik dari buku B.J. Habibie “Detik-Detik yang Menentukan”, banyak juga yang menarik dari kepribadian penulisnya, setelah membaca buku itu. Namun demikian tidak meleset jika disimpulkan bahwa: “Buku dan penulisnya menyatu dalam kata “Demokrasi”. Itulah uraian buku ini dan itu pula kunci kepribadian penulisnya yang taat beragama Islam itu. Dengan demikian terbukti bahwa tidak ada pertentangan sedikit pun antara penegakan demokrasi dan pelaksanaan ajaran Islam. (M. Quraish Shihab)

As those move further into the past, the scale and scope of Habibie’s achievement seems ever more astounding and surprising. How was it that an administrative technologist with weak political skills and almost no political support could change Indonesia so rapidly, decisively and fundamentally, and in ways that no one could have expected? (Robert.E. Elson)

Kesalahfahaman seolah-olah Presiden Habibie menciptakan “bom waktu disintegrasi” melalui kebijakan desentralisasinya adalah sesuatu yang berangkat dari argumen yang keliru dan tidak berdasar. (Ryaas Rasyid)

Whether one believes in the ‘Great Man’ or ‘Great Idea’ concept of leadership, Pak Habibie succeeded, within the shortest time possible, in mobilizing every resource that was available, to launch a ‘new Indonesia’. (Bilveer Singh)

available from http://www.bukukita.com

Palopo Heritage dan Peluang Pariwisata Palopo

•Februari 15, 2008 • 1 Komentar

Visi Kota Palopo untuk menjadi kota jasa memang suatu yang realistis. Olehnya itu, jika Pemkot Palopo tetap ingin untuk mengembangkan Siguntu menjadi suatu area pertambangan, adalah keliru jika hal ini dilakukan. Pariwisata sejatinya menjadi jalan untuk concern pada sektor jasa. Tentunya dengan program yang jelas. Salah satu yang sejatinya diberikan perhatian adalah terhadap bangunan-bangunan bersejarah di Kota Palopo. Istana LangkanaE, masjid Jami Tua, RSU Sawerigading, Kantor Pos Palopo, Balaikota, Makodim 1403 Sawerigading, Kampus Stisipol Veteran Palopo, SMP dan SMA 1 Palopo dan beberapa bangunan lainnya adalah aset yang perlu untuk mendapat perhatian.

Palopo Heritage satu-satunya hanyalah bangunan-bangunan ini, selain kebudayaan Palopo itu sediri. Olehnya itu, menjadi sebuah kewajiban untuk mengkaji, bagaimana memasarkan historical building ini. Dan salahsatu jembatan untuk itu adalah dengan pelestarian.

Pelestarian Bangunan Bersejarah merupakan suatu pendekatan yang strategis dalam pembangunan kota Palopo, karena pelestarian menjamin kesinambungan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembangunan yang dilakukan masyarakat. Dan untuk melakukan pelestarian ini, diperlukan konservasi. Bukan hanya terhadap suatu bangunan saja, melainkan sebuah cakupan wilayah yang nantinya memberikan karakter tersendiri di Palopo, sebagai kota tua. Penentuan kawasan konservasi sejatinya dilakukan dengan survey komprehensif guna menemukan tata aturan masa lalu, yang perlu dilestarikan. Dengan mengetahui karakter penting dari setiap area tersebut, maka jembatan untuk mengetahui identitas Palopo yang sejati, berikut sejarah perkembangannya, menjadi suatu yang mudah untuk ditemukan.

Dan pula, dengan mempelajari dan mengindahkan peraturan-peraturan yang berlaku pada wilayah yang direncakan untuk dikonservasi, akan dapat kita peroleh arahan untuk perencanaan pembangunan Palopo selanjutnya. Perencanaan pembangunan baru yang memberikan ruang apresiasi terhadap keberadaan Palopo Heritage.

Perumusan perencanaan ini tentunya akan berhasil apabila melibatkan pemilik, pengguna dan masyarakat pada umumnya, serta instansi pemerintah dan DPRD Palopo, tentunya yang membuat regulasi mengenai perencanaan dan tata kota.

Di Palopo sendiri, daerah-daerah yang memiliki karakteristik yang khas, terdapat di beberapa wilayah, yaitu:

1. Kawasan Pusat Kota Bersejarah, yaitu Istana LangkanaE, Masjid Jami Tua, Kantor Pos yang ternyata telah tumbuh sejak adanya Masjid Jami Tua di tahun 1600-an.

2. Kawasan Etnik Cina, yaitu di sekitar Jalan Sawerigading, Andi Jemma (lama) dan Jl. Diponegoro.

3. Kawasan Militer, yaitu di sekitar Opu Tosappaile, Makodim, RSU dan Balaikota, beberapa bangunan rumah di Jl. Veteran dan Patang, yang merupakan perkantoran, perumahan pejabat masa lalu dan basis-basis masyarakat militer.

4. Kawasan Bukit, yaitu di sekitar daerah Latuppa, Battang, Paredean yang dulunya memiliki Pesanggrahan dan beberapa bunker Jepang, masih ada di pinggir-pinggir jalan menuju Tana Toraja.

5. Kawasan Pendidikan, yaitu SMP 1 dan SMA 1 Palopo di daerah Imam Bonjol yang merupakan dua sekolah tertua di Luwu Raya.

6. Kawasan Ekonomi-Industri, yaitu daerah Luwu Plaza dan kawasan Sawerigading.

Dengan demikian, daerah target yang sejatinya menjadi kawasan konservasi di Kota Palopo adalah di Kel. Batupasi, Pontap, Luminda, Sabbamparu, dan Tomarundung. Jika terlalu luas, kawasan ini dapat diperkecil dengan mengkonsentrasikan pada satu kelurahan saja. Dengan ditentukannya suatu daerah menjadi kawasan konservasi tidak berarti bahwa masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dilarang membangun atau dilarang mengubah bangunannya.

Hal ini lebih diartikan bahwa daerah kota ini mempunyai kualitas lingkungan yang bernilai tinggi, dan pembangunan yang baru serta perubahan bangunan lama perlu direncanakan dan dirancang dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang masih berharga tersebut.

Bahkan kalau dapat kualitas nilai-nilai tersebut harus lebih ditingkatkan dengan merawatnya yang lebih baik dan menjadikannya sebagai acuan pembangunan kota Palopo, sehingga penghuni kota Palopo akan lebih nyaman dan bangga terhadap kota ini, Palopo.

Gagasan tersebut di atas, dapat diimplementasikan dengan memulai meriset secara komprehensif identitas Palopo yang sejati. Selanjutnya memformulasikan perencanaan yang lebih aspiratif terhadap eksistensi bangunan-bangunan bersejarah di Palopo. Dan perencanaan ini memerlukan regulasi yang konsisten dalam aplikasinya.

Dengan demikian, kita berharap kawasan konservasi ini akan dapat memberikan citra yang lebih baik dibandingkan dengan daerah kota lainnya, yang dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memasarkan Palopo dalam promosi pariwisata.

Suatu konsep yang telah diterapkan di Negara-negara maju. Olehnya itu, dengan slogan The Heart of Sulawesi, kita tidak menjadi over promise under delivery terhadap slogan kita itu. Palopo mampu memberikan bukti, bahwa salahsatu jantung, atau bahkan memang jantungnya Sulawesi ada di Palopo, our lovely city.

Ekobis Palopo 2008

•Februari 15, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tahun 2007 menurut penulis merupakan tahun yang menggairahkan bagi iklim perekonomian di Palopo. Betapa tidak, ada banyak perusahan-perusahan berskala nasional, bahkan internasional yang berkespansi di Palopo. Adakah tahun depan, atmosfer ekonomi Palopo memiliki vitalitas yang sama (atau bahkan lebih baik) dari tahun 2007 ini? Mengutip Palopo Pos tanggal 14 Desember 2007, pertumbuhan perekonomian Palopo 2007 diprediksi tumbuh 8%. Hal ini penulis pikir sangat baik. Ada kenaikan 0,51% dibanding tahun 2006 yang menembus 7,49%. Lebih unggul dibanding Sulsel yang hanya 6,53%. Ini artinya, sekali lagi, kondisi perekonomian Palopo lagi ‘mekar-mekarnya’.

Tren bisnis di Palopo tahun 2008 diprediksikan akan lebih banyak bermain pada pola-pola tahun 2007. Di bidang konstruksi, peningkatan jumlah rumah toko (ruko) akan menyeberang gairahnya ke tahun depan. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan suku bunga BI yang merangsang bergairahnya sector ini. Perumahan demikian pula halnya.Diprediksikan, akan ada lahan baru yang dibuka untuk menjadi kawasan perumahan. Daerah persawahan, mungkin target dari pemain-pemain di bisnis ini (developer). Dampaknya tentu berkurangnya areal persawahan di Kota Palopo. Namun demikian, produksi padi Palopo yang tahun ini meningkat 42 Ribu ton, nampaknya tidak akan terlalu terpengaruh. Indikasinya ialah, gencarnya Kantor Informasi Penyuluhan dan Dinas Pertanian untuk mengedukasi petani-petani Palopo.Hal ini tentu dengan konsep intensifikasi dan metode pertanian mutakhir, yang akhir-akhir ini sangat pesat perkembangannya.Intensifikasi ini, juga akan diikuti pula di sector perikanan dan kelautan. Disperiklak belakangan ini sudah mulai memperlihatkan kinerja yang lebih berorientasi pada upaya peningkatan produksi.Olehnya itu, hasilnya akan lebih tampak di tahun depan. Rumput laut yang menjadi andalan akan semakin diminati pasar. Lihat saja opini Martani Huseini, guru besar ekonomi UI, yang dalam sebuah majalah ekonomi mengatakan, “Kalau mau berbisnis yang benar-benar berpotensi, mulailah bisnis berbasis produk kelautan. Contohnya rumput laut”

Bisnis lain yang akan membukukan keuntungan besar di 2008 adalah percetakan. Sektor riil ini akan mendapat imbas dari riuhnya suksesi/Pilwalkot 2008. Akan ada banyak order cetakan baju, stiker, banner, pin, baliho dan property kampanye lainnya. Bukan hanya dari Palopo penulis pikir, order juga akan mengalir dari Belopa, yang juga tahun depan akan melaksanakan Pilbup. Namun, secara tidak langsung pula, Pilwalkot juga akan memengaruhi iklim perekonomian Palopo.

Investasi secara umum akan baik, namun tidak begitu signifikan, akibat sentiment negative Pilwalkot. Sentimen Pilwalkot ini akan mampu diimbangi dengan baiknya kinerja KPTSP (Kantor Perizinan Terpadu Satu Pintu) dan adanya itikad baik pemerintah kota dan muspida, untuk menjaga kepastian hukum. Namun pula, yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi, juga berpotensi terjadi inflasi.

Di bidang teknologi, penjualan handphone akan tetap bersinar. Planning beberapa operator seluler untuk ekspansi 3G di Sulawesi tahun 2008, akan mendongkrak penjualan telepon seluler, khususnya yang berkemampuan 3G di Palopo. Turunannya, pengecer pulsa yang tumbuh dan bertebaran di kota ini, masih pula eksis di tahun depan.Namun demikian, para pengecer ini harus lebih meningkatkan kinerjanya untuk lebih mampu survive di tengah banyaknya kompetitor. Salahsatunya tentu dengan melaksanakan diferensiasi pelayanan, packaging outlet, produk tambahan atau bahkan dalam hal pricing.Karakter konsumen Palopo (khususnya remaja) yang tidak ingin gaptek (gagap teknologi), masih pula akan mendorong penjualan produk teknologi semisal MP3, MP4 dan laptop. Produk yang terakhir disebutkan di atas, bahkan akan lebih signifikan dari tahun ini.Indikasinya adalah bahwa professional di Palopo, jumlahnya semakin banyak akibat masuknya perusahaan-perusahaan skala nasional (terutama perbankan dan keuangan). Di samping itu, tuntutan pekerjaan dari sejumlah pegawai negeri sipil untuk melek computer, akan menjadi factor berikutnya.

Di tahun 2007, kita patut bangga, KFC berinvestasi di Palopo. Namun di 2008, belajar dari KFC, Dobby Burger dan bisnis franchise lainnya yang cenderung stagnan, maka diprediksikan bisnis waralaba tidak akan terlalu signifikan pertumbuhannya. Masyarakat Palopo tampaknya tidak terlalu siap dengan harga premium yang diterapkan waralaba-waralaba di atas. Ditambah dengan bayang-bayang ketidakpastian harga BBM 2008, maka sekali lagi, bisnis franchise tampaknya tidak segencar tahun ini.

Factory outlet semisal Orgy dan distro-distro, di tahun depan penulis pikir akan mengalami masa yang tidak terlalu bersinar. Tahun ini saja, beberapa distro tutup. Target market yang mematok remaja, masih terlalu sempit pasarnya. Hal ini karena remaja Palopo belum siap dengan self budget.Daya beli orang dewasa (termasuk orangtua-orangtua remaja) akan dihadapkan dengan dilema kenaikan BBM. Jika memang BBM naik, penjualan sepeda motor tentu juga akan berpengaruh. Namun demikian, diprediksikan, motik (motor otomatik) akan mengalami peningkatan 20-30% penjualannya secara nasional (mungkin Palopo juga termasuk di dalamnya).

Di bidang bisnis edukasi, seminar-seminar akan lebih banyak. Pengaruh sertifikasi guru, akan mendorong banyaknya pelaksanaan seminar. Jika memang Sahrul Yasin Limpo akan menjadi gubernur (dan merealiasikan janjinya di 2008), masyarakat akan lebih berdaya beli dalam hal pendidikan. Namun pendidikan gratis harus diformulasi dengan teliti. Selain itu, di bidang pendidikan, tren siswa SMP dan SMA sekarang di Palopo adalah internet.Olehnya itu, peluang untuk tumbuhnya warung internet di 2008 akan semakin besar. Tengok saja dua warnet di Palopo (MPS dan Al Ilmi) tiap hari disesaki konsumennya. Bahkan banyak yang rela ngantri berjam-jam.

Ritel di Palopo juga akan tetap tumbuh seperti 2007. Hal ini disebabkan karena masyarakat memang masih butuh, bahkan akan tetap berbelanja. Dengan karakter masyarakat kita yang instan, gengsi dan cenderung konsumtif, bisnis ritel akan sama atmosfernya dengan tahun ini.Namun demikian, bukan berarti PNP dan pasar tradisional akan ditinggalkan. Pasar Andi Tadda akan menjadi ‘rising star’ di 2008. Sudah banyak akses yang akan mendukung pasar baru ini untuk lebih menarik.

Sektor pariwisata di Palopo akan mengikuti gaung Visit Indonesia 2008. Toraja tetap menjadi mitra Palopo. Hotel-hotel akan tetap eksis bahkan okupansinya akan jauh lebih besar. Restoran akan tetap tumbuh dengan signifikan, akibat banyaknya orang yang masuk ke kota ini. Warung kopi akan laris manis untuk kongkow, menjelang Pilwalkot. Jika TV swasta kita mampu membeli program, Lagota dan Pujasari akan menjadi tempat yang nyaman untuk nonton bareng Piala Eropa 2008. Namun, entertainment event semisal konser akan lebih stagnan. Masyarakat kita jenuh dengan konsep acara yang begitu-begitu saja atau cenderung biasa. Konser ini trennya akan digeser dengan nonton bareng. Hal ini disebabkan karena tumbuhnya perfilman nasional kita.

Eksekusi program corporate social responsibility di Palopo juga tampaknya berpeluang besar di 2008. Harus mampu SDM yang kreatif untuk menjemput bola rezeki ini, khususnya Pemkot. PLTA Bambalu, secara luas akan mendorong perekonomian Palopo bagian barat. Olehnya itu, gairah bisnis dan perekonomian Palopo 2008 masih menjadi permen manis yang akan dikerumuni oleh semut-semut investor atau pebisnis.

Sentimen Pilwakot 2008, pasti ada pengaruhnya. Kehati-hatian perlu, namun tidak dalam skala kepanikan. Olehnya itu, dengan optimisme ini, penulis yakin, 2008 akan lebih baik dibanding 2007. Menurut anda…? Wallahu a’lam.

Halo dunia!

•Februari 15, 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!