Palopo Heritage dan Peluang Pariwisata Palopo

Visi Kota Palopo untuk menjadi kota jasa memang suatu yang realistis. Olehnya itu, jika Pemkot Palopo tetap ingin untuk mengembangkan Siguntu menjadi suatu area pertambangan, adalah keliru jika hal ini dilakukan. Pariwisata sejatinya menjadi jalan untuk concern pada sektor jasa. Tentunya dengan program yang jelas. Salah satu yang sejatinya diberikan perhatian adalah terhadap bangunan-bangunan bersejarah di Kota Palopo. Istana LangkanaE, masjid Jami Tua, RSU Sawerigading, Kantor Pos Palopo, Balaikota, Makodim 1403 Sawerigading, Kampus Stisipol Veteran Palopo, SMP dan SMA 1 Palopo dan beberapa bangunan lainnya adalah aset yang perlu untuk mendapat perhatian.

Palopo Heritage satu-satunya hanyalah bangunan-bangunan ini, selain kebudayaan Palopo itu sediri. Olehnya itu, menjadi sebuah kewajiban untuk mengkaji, bagaimana memasarkan historical building ini. Dan salahsatu jembatan untuk itu adalah dengan pelestarian.

Pelestarian Bangunan Bersejarah merupakan suatu pendekatan yang strategis dalam pembangunan kota Palopo, karena pelestarian menjamin kesinambungan nilai-nilai kehidupan dalam proses pembangunan yang dilakukan masyarakat. Dan untuk melakukan pelestarian ini, diperlukan konservasi. Bukan hanya terhadap suatu bangunan saja, melainkan sebuah cakupan wilayah yang nantinya memberikan karakter tersendiri di Palopo, sebagai kota tua. Penentuan kawasan konservasi sejatinya dilakukan dengan survey komprehensif guna menemukan tata aturan masa lalu, yang perlu dilestarikan. Dengan mengetahui karakter penting dari setiap area tersebut, maka jembatan untuk mengetahui identitas Palopo yang sejati, berikut sejarah perkembangannya, menjadi suatu yang mudah untuk ditemukan.

Dan pula, dengan mempelajari dan mengindahkan peraturan-peraturan yang berlaku pada wilayah yang direncakan untuk dikonservasi, akan dapat kita peroleh arahan untuk perencanaan pembangunan Palopo selanjutnya. Perencanaan pembangunan baru yang memberikan ruang apresiasi terhadap keberadaan Palopo Heritage.

Perumusan perencanaan ini tentunya akan berhasil apabila melibatkan pemilik, pengguna dan masyarakat pada umumnya, serta instansi pemerintah dan DPRD Palopo, tentunya yang membuat regulasi mengenai perencanaan dan tata kota.

Di Palopo sendiri, daerah-daerah yang memiliki karakteristik yang khas, terdapat di beberapa wilayah, yaitu:

1. Kawasan Pusat Kota Bersejarah, yaitu Istana LangkanaE, Masjid Jami Tua, Kantor Pos yang ternyata telah tumbuh sejak adanya Masjid Jami Tua di tahun 1600-an.

2. Kawasan Etnik Cina, yaitu di sekitar Jalan Sawerigading, Andi Jemma (lama) dan Jl. Diponegoro.

3. Kawasan Militer, yaitu di sekitar Opu Tosappaile, Makodim, RSU dan Balaikota, beberapa bangunan rumah di Jl. Veteran dan Patang, yang merupakan perkantoran, perumahan pejabat masa lalu dan basis-basis masyarakat militer.

4. Kawasan Bukit, yaitu di sekitar daerah Latuppa, Battang, Paredean yang dulunya memiliki Pesanggrahan dan beberapa bunker Jepang, masih ada di pinggir-pinggir jalan menuju Tana Toraja.

5. Kawasan Pendidikan, yaitu SMP 1 dan SMA 1 Palopo di daerah Imam Bonjol yang merupakan dua sekolah tertua di Luwu Raya.

6. Kawasan Ekonomi-Industri, yaitu daerah Luwu Plaza dan kawasan Sawerigading.

Dengan demikian, daerah target yang sejatinya menjadi kawasan konservasi di Kota Palopo adalah di Kel. Batupasi, Pontap, Luminda, Sabbamparu, dan Tomarundung. Jika terlalu luas, kawasan ini dapat diperkecil dengan mengkonsentrasikan pada satu kelurahan saja. Dengan ditentukannya suatu daerah menjadi kawasan konservasi tidak berarti bahwa masyarakat yang tinggal di daerah tersebut dilarang membangun atau dilarang mengubah bangunannya.

Hal ini lebih diartikan bahwa daerah kota ini mempunyai kualitas lingkungan yang bernilai tinggi, dan pembangunan yang baru serta perubahan bangunan lama perlu direncanakan dan dirancang dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang masih berharga tersebut.

Bahkan kalau dapat kualitas nilai-nilai tersebut harus lebih ditingkatkan dengan merawatnya yang lebih baik dan menjadikannya sebagai acuan pembangunan kota Palopo, sehingga penghuni kota Palopo akan lebih nyaman dan bangga terhadap kota ini, Palopo.

Gagasan tersebut di atas, dapat diimplementasikan dengan memulai meriset secara komprehensif identitas Palopo yang sejati. Selanjutnya memformulasikan perencanaan yang lebih aspiratif terhadap eksistensi bangunan-bangunan bersejarah di Palopo. Dan perencanaan ini memerlukan regulasi yang konsisten dalam aplikasinya.

Dengan demikian, kita berharap kawasan konservasi ini akan dapat memberikan citra yang lebih baik dibandingkan dengan daerah kota lainnya, yang dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memasarkan Palopo dalam promosi pariwisata.

Suatu konsep yang telah diterapkan di Negara-negara maju. Olehnya itu, dengan slogan The Heart of Sulawesi, kita tidak menjadi over promise under delivery terhadap slogan kita itu. Palopo mampu memberikan bukti, bahwa salahsatu jantung, atau bahkan memang jantungnya Sulawesi ada di Palopo, our lovely city.

~ oleh daengmangawara di/pada Februari 15, 2008.

Satu Tanggapan to “Palopo Heritage dan Peluang Pariwisata Palopo”

  1. Secara Prinsip Sepakat..Seperti hal nya Jakarta yang memiliki cagar budaya “Kota Tua” yang memilik nilai historis, kiranya PALOPO dapat melakukan hal yag sama dan khas Palopo, Untuk itu perlu di rumuskan arah pembangunan “khas Kota Palopo” ke depan.
    Terus kampanyekan Pak!!!

Tinggalkan Balasan